"Ramai orang cukup yakin mencanangkan impian. Namun tidak tentu lihai menunainya. Apalagi terjamin pencapaian. Tanpa melangkah, tetap saja berdiam diri namanya.
Adakah kita
mengalaminya? Jangan dahulu berkecil hati. Inginkah kita lebih melesat di tahun
2015? Hendaknya catatan ini menawarkan resolusi baru untuk kita.
Penghujung 2014
barangkali masih menyisakan impian lalu kita yang belum tercapai. Sebetulnya ada
ragam aral di sana. Terlebih faktor diri yang cukup berpenyebab. Ada malas yang
merenggut kesempatan. Menunda tanpa sebab untuk bersegera. Ketidakteguhan diri kerap
memupuskan pencapaian. Setiap kita lebih tau semua itu.
Mungkinnya kita
membayangkan.
Apa jadinya andai sejumlah impian dahulu itu semua tercapai? Sayangnya
hanya angan kita yang menikmati. Semua itu tak mungkin lagi menarik kembali
waktu.
Namun, cara kita masih bisa memperbaiki. Bagaimanakah? Pengalaman
menjadi kunci. Setiap kita telah melalui. Dari sanalah berawal perubahan untuk
kita evaluasi diri.
**
Izinkan saya sedikit
berbagi. Mengevaluasi diri sembari kita tersuguh solusi. Sebagai pribadi yang gemar
menagih impian sejumlah plan selalu saya tuliskan. Tak kecuali tahun 2014. Persisnya
beberapa lis impian telah tercentang sukses. Ada yang sedianya belum
terjalankan. Sisanya berstatuskan fifty-fifty. Menunjuki bahwa plan itu tak
kunjung sukses. Mandek di tengah operasi. :D
Pengalaman
mengajarkan saya. Tercapai atau tidaknya impian tersebab oleh beberapa hal. Pertama,
skala prioritas. Setiap impian positif layak diwujudkan. Namun, tanpa menera
nomor prioritas pada lis impian berarti semua yang tertulis adalah penting dan
perlu dicapai. Tantangannya justru pada mendahului mana yang penting untuk
disegerakan. Memaksa membarengi pun kerap ketimpaan gagal mencapai finis
impian. Skala prioritas penting. Cara kita adalah membuat kuandran: terpenting,
penting, dan kurang penting.
Kedua, fokus.
Tidak fokus akan membawaki impian jadi buyar. Menghasrati menunai banyak
rencana tanpa menuntaskan satu persatu adalah bentuk keserakahan. Logika
menilai kita menyambuti setiap keinginan positif. Padahal sesungguhnya kita
membelenggu diri sendiri. Kesudahannya adalah sulit mengeksekusi tuntas impian
demi impian.
Ketiga, gambaran
proses. Impian tidak sekenanya saja lahir dan mendekap motivasi. Mengkhayalkan
proses merupakan indikator sukses dalam mewujudkan. Sehebat apapun torehan
impian, tanpa menjabarkan target-target logis cenderung sulit tercapai. Semakin
kontras proses yang kita lalui akan semakin dekat pencapaian.
Keempat, faktor
Tuhan. Lazim kita mendengar, usaha tanpa doa adalah sombong dan berdoa tanpa usaha
adalah omong kosong. Setelah mengoptimalkan diri sendiri, partner terbesar pewujud
impian kita adalah Tuhan. Tidak sedikit pun pencapaian terjadi tanpa seizinNya.
Menulis impian
baru
![]() |
| Bismillah. Tahun baru, semangat baru. :) |
Jika impian lalu masih penting, namun belum terwujudkan warnai semangat baru. Kita semua adalah
manusia masa lalu dan masa depan. Masa lalu yang kelam cukuplah membekali
pengalaman. Modal pencerahan baru untuk maju. Selama masa depan masih diizinkan
Tuhan tuliskan impian baru. Menunai dan mengenggam pencapaian.
Memasuki tahun 2015.
Sapaan terindah adalah syukur dan doa. Kitalah yang lebih bertanggung jawab membuat
resolusi terbaik 2015. Marilah kita menulis impian baru. Selogis mungkin, terpenting
dan fokus, lalu bersegera. [nobel]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar