Minggu, 28 Desember 2014

Resolusi 2015


"Ramai orang cukup yakin mencanangkan impian. Namun tidak tentu lihai menunainya. Apalagi terjamin pencapaian. Tanpa melangkah, tetap saja berdiam diri namanya.

Adakah kita mengalaminya? Jangan dahulu berkecil hati. Inginkah kita lebih melesat di tahun 2015? Hendaknya catatan ini menawarkan resolusi baru untuk kita.

Penghujung 2014 barangkali masih menyisakan impian lalu kita yang belum tercapai. Sebetulnya ada ragam aral di sana. Terlebih faktor diri yang cukup berpenyebab. Ada malas yang merenggut kesempatan. Menunda tanpa sebab untuk bersegera. Ketidakteguhan diri kerap memupuskan pencapaian. Setiap kita lebih tau semua itu.

Mungkinnya kita membayangkan. 
Apa jadinya andai sejumlah impian dahulu itu semua tercapai? Sayangnya hanya angan kita yang menikmati. Semua itu tak mungkin lagi menarik kembali waktu. 

Namun, cara kita masih bisa memperbaiki. Bagaimanakah? Pengalaman menjadi kunci. Setiap kita telah melalui. Dari sanalah berawal perubahan untuk kita evaluasi diri.
**
Izinkan saya sedikit berbagi. Mengevaluasi diri sembari kita tersuguh solusi. Sebagai pribadi yang gemar menagih impian sejumlah plan selalu saya tuliskan. Tak kecuali tahun 2014. Persisnya beberapa lis impian telah tercentang sukses. Ada yang sedianya belum terjalankan. Sisanya berstatuskan fifty-fifty. Menunjuki bahwa plan itu tak kunjung sukses. Mandek di tengah operasi. :D

Pengalaman mengajarkan saya. Tercapai atau tidaknya impian tersebab oleh beberapa hal. Pertama, skala prioritas. Setiap impian positif layak diwujudkan. Namun, tanpa menera nomor prioritas pada lis impian berarti semua yang tertulis adalah penting dan perlu dicapai. Tantangannya justru pada mendahului mana yang penting untuk disegerakan. Memaksa membarengi pun kerap ketimpaan gagal mencapai finis impian. Skala prioritas penting. Cara kita adalah membuat kuandran: terpenting, penting, dan kurang penting.

Kedua, fokus. Tidak fokus akan membawaki impian jadi buyar. Menghasrati menunai banyak rencana tanpa menuntaskan satu persatu adalah bentuk keserakahan. Logika menilai kita menyambuti setiap keinginan positif. Padahal sesungguhnya kita membelenggu diri sendiri. Kesudahannya adalah sulit mengeksekusi tuntas impian demi impian.

Ketiga, gambaran proses. Impian tidak sekenanya saja lahir dan mendekap motivasi. Mengkhayalkan proses merupakan indikator sukses dalam mewujudkan. Sehebat apapun torehan impian, tanpa menjabarkan target-target logis cenderung sulit tercapai. Semakin kontras proses yang kita lalui akan semakin dekat pencapaian.

Keempat, faktor Tuhan. Lazim kita mendengar, usaha tanpa doa adalah sombong dan berdoa tanpa usaha adalah omong kosong. Setelah mengoptimalkan diri sendiri, partner terbesar pewujud impian kita adalah Tuhan. Tidak sedikit pun pencapaian terjadi tanpa seizinNya.

Menulis impian baru
ddd
Bismillah. Tahun baru, semangat baru. :)
Jika impian lalu masih penting, namun belum terwujudkan warnai semangat baru. Kita semua adalah manusia masa lalu dan masa depan. Masa lalu yang kelam cukuplah membekali pengalaman. Modal pencerahan baru untuk maju. Selama masa depan masih diizinkan Tuhan tuliskan impian baru. Menunai dan mengenggam pencapaian.

Memasuki tahun 2015. Sapaan terindah adalah syukur dan doa. Kitalah yang lebih bertanggung jawab membuat resolusi terbaik 2015. Marilah kita menulis impian baru. Selogis mungkin, terpenting dan fokus, lalu bersegera. [nobel]

Tidak ada komentar: